Januari 2011
Sorong, Papua
Merupakan kunjungan kedua saya setelah sebelumnya pada Bulan Oktober 2010 lalu saya secara perdana menginjakan kaki ke Kota Minyak, Papua ini. Kesan yang sama masih tetap menyenangkan, meskipun panas, tapi saya masih tetap tidak menyangka bahwa sejauh ini saya bisa terbang dan bertemu kembali Sorong hingga dua kali.. kalo ke Sorong ya berarti harus main ke Raja Ampatnya, dasar nasib baik ternyata diajak juga berlayar keliling kepulauan Raja Ampat, hehe..
berdasarkan cerita penduduk sana, alkisah ada seorang wanita yang berhasil menemukan 7 telur ajaib, 4 telur tersebar di pulau Waigeo, Salawati, Misool timur dan Barat. Telur-telur tersebut kemudian menetaskan manusia dan manusia-manusia itulah yang kemudian menjadi raja di wilayahnya, sementara 3 telur lainnya berubah menjadi ayam.. (boong deng, 3 telur lainnya ga masuk cerita)
waktu itu rombongan kami berlayar dari pkl 06.00 pagi, dan kemudian berkeliling pulau misool dan berhenti di Sorido Bay, disini
sudah dibangun resort cantik yang punya orang bule *ZLEBH* dan disediakan fasilitas diving buat pengunjung, tapi ngapain harus snorkeling wong saya masih bisa liat isinya dalem laut dari daratan kok.. hiu-hiu kecil, atau alga-alga dan batu karang cantik, masih bisa dinikmati dengan mata telanjang.. (alibi padahal ga punya duit) so how can i describe Raja Ampat? Raja Ampat are really a world treasure and me? I’m just the lucky bastard.. Sorong itu (sekali lagi) panas, dan beda waktu 2jam dengan di bandung, gak Jet lag sih, cuma bingung aja karena harus nonton sinetron yang biasa ditonton jam 8, jadinya baru bisa diliat jam 10 malem, ditambah matahari disana munculnya cepet banget! Biaya hidup disana relatif mahal, harga kebutuhan hidup juga dua kali lipat dari harga di Pulau Jawa, hiburan ‘hedon’ disana ada tempat karoke keluarga dan supermarket yang cukup besar. Angkot disana disebutnya taksi, beda dengan angkot di Bandung, kursi penumpang dihadapkan ke depan, ga miring saling berhadapan antar penumpang.
Disini nih, untuk pertama kalinya liat yang namanya Koteka, temen-temen tau kan apa itu Koteka? Koteka merupakan pakaian adat penutup kelamin pria bagi para suku di Papua, warga suku pegunungan Jayawijaya menyebutnya Holim atau Horim, terbuat dari labu air yang isinya dibuang kemudian dikeringkan. Bentuk dan besar koteka berbeda-beda, hal ini bukan dikarenakan ukuran besar-kecilnya si kelamin pria tapi karena perbedaaan suku dan kepentingan yang menggunakannya. *serius* nah, untuk saat ini sih koteka jarang digunakan kecuali oleh suku dani, wamena atau asmat terpencil. Penggunaan koteka saat ini lebih kepada hiasan atau cenderamata, waktu itu saya membelinya dengan harga Rp. 180.000 dengan bentuk yang paling sederhana mirip wortel raksasa.
Selain koteka, cenderamata khas papua lainnya yang saya beli ya Noken, Noken merupakan tas yang terbuat dari serat kayu dan biasanya digunakan warga papua untuk mengangkut barang bawaaannya dengan menggantungkannya dikepala. Bentuknya mirip tas selempang gitu, kecil tapi kalo udah diisi barang bisa melebar dan sangat elastis, dulu orang papua menggunakannya untuk mengangkut hasil pertanian. Papua seru! Kalo ada rejeki, beneran ga nolak deh diajak main kesana (lagi).. :)
February 2011
Jogjakarta
Pengalaman backpacking pertama kali yang beneran menakjubkan, pertama kalinya naik kereta Ekonomi 10 jam harga Rp. 24.000, pengalaman keliling Jogja naik bis, bebas makan apapun, liat Taman Sari yang (masih) cantik, ke Museum Vreedeburg yang bikin betah nontonin diorama-diorama jaman kemerdekaan, main ke Taman Budaya terus pulangnya beli buku di taman pintar, belanja di Mirota, sampe nyoba nongkrong di Mol Ambarukmo yang gede itu..
Taman sari yang cantik.
Dari sekian banyak tempat wisata di Jogja, cuma Taman sari ini yang bikin saya jatuh cinta banget.. Taman sari yang dibangun pada masa Sultan hamengku Buwono I adalah taman kerajaan Sutan Jogja dan keluarganya yang juga berfungsi sebagai tempat bersemedi dan peristirahatan Sultan beserta keluarganya. Kompleks yang terdiri dari kolam pemandian, kanal air, ruangan-ruangan khusus dan sebuah kolam yang besar ini terletak 0,5 km sebelah selatan Keraton Jogjakarta dan memiliki jalan rahasia menuju Keraton Jogjanya loh.. seru ya..
Taman sari ini dibagi menjadi beberapa bagian, antara lain bagian sakral, dimana terdapat ruangan dengan bagian yang menyendiri, khusus untuk bersemedi. Selain itu ada kolam pemandian, dengan dua kolam yang dipisahkan.. menurut cerita guide saya, dulu sultan punya banyak istri dan para istrinya itu mandi dikolam kedua, bila saat itu sultan ingin mandi dengan salah satu istrinya, maka sultan melempar bunga ke arah target atau cukup menunjuk saja salah satu istrinya kemudian sang istripun berenang lewat lorong bawah kolam memasuki kolam pertama dan terus mandi privat deh berdusa sama sultan, cihuy!! Terakhir adalah bagian Pulau Kenanga, yang terdiri dari lorong-lorong bawah tanah.. dua jempol buat taman sari, pokoknya mau main kesana lagi..
Benteng Vreedeburg
Awalnya pada tahun 1765, benteng ini bernama Benteng Rustenburg atau Benteng Peristirahatan, namun pada tahun 1788 benteng ini
disempurnakan dan diganti namanya menjadi Benteng Vredeburg atau Benteng Perdamaian. Letaknya di sisi selatan Malioboro! Pokoknya abis belanja pulangnya harus mampir kesini.. Ceritanya pada awalnya benteng ini dibangun pemerintah Belanda untuk menahan serangan dari keraton Jogja, di benteng ini terdapat 4 menara pengawas di 4 sudut benteng, untuk mengawasi kegiatan sultan di keratonnya dulu. Di paling bawah ada museum perjuangan, isinya ada benda-benda bersejarah, foto-foto perjuangan dan diorama-diorama yang menggambarkan perjuangan sebelum proklamasi sampai masa Orde baru. Walaupun suasananya yang gelap dan mencekam tapi serius bikin betah, ada voice record yang menceritakan adegan di diorama dalam kaca. Seru deh!
Mirota Batik
Kalo ke Jogja, semua pasti mampir ke Mirota Batik ini ya.. saya sendiri mendapati tiga keunikan dari toko ini. Pertama nih, saya baru tau kalo nama mirota sendiri berasal dari nama usaha orang tua Pa Sulaiman Hamzah, the owner of Mirota Batik yaitu, Minuman dan Roti tawar yang disingkat menjadi Mirota. Kedua, yang menyita perhatian ya karyawannya yang mostly terdiri dari para pria ‘macho’, ketiga dari keramahan, wangi dupa, kostum pegawai sampai barang-barang yang dijualnya, Mirota Batik is simply uniqe and amazing
Juni 2011
Thailand
Hmm.. punya pengalaman internasional paling perdana, jadi salah satu peserta Indonesia dalam pertukaran budaya antara Indonesia
dengan Thailand, bener-bener kasi banyak pelajaran mulai dari pola pikir dan motivasi diri. Terlalu banyak tempat wisata yang dikunjungi sampe-sampe lupa nama tempatnya. Tinggal selama 3bulan di Phitsanulok, kota kecil tengah Thailand, ada field-trip main ke tempat wisata, diajak 3 malem menjelajahi Chiang-Mai, dan 7 hari ngubek-ngubek Bangkok, belajar nari, menggambar, bahasa dan main alat musik tradisional Thailand, Khim. What can i say? I’m (still) the Lucky bastard. Cerita tentang Thailand ini bakal saya bikin jadi narasi dengan keterangan lebih lengkap. Tunggu saja..
November 2011
Kupang – Ende, Flores
Jadi ceritanya, Opa dari mama saya adalah orang Kupang yang menetap di Ende. Opa ketemu Oma saya dulu waktu di Surabaya, saat itu oma saya adalah seorang perawat rumah sakit Belanda. Mama sempat tinggal setahun di Ende sana, menikmati masa remaja dengan banyak makan babi, hehe.. Kunjungan November ini merupakan yang ketiga kalinya buat mama dan pertama kalinya buat saya. Kupang ini merupakan kota kecil yang kayanya kalo udah jam8 malem gelap krn kurangnya lampu penerangan jalan. Orang-orangnya sudah berwarna, maksudnya ga semua berkulit gelap. Banyak orang keturunan cina tinggal dan mencari nafkah disini. Ga banyak yang dieksplor disini, karena judulnya Cuma kunjungan sodara.
sementara itu, di Ende, Flores saya dapat kesempatan untuk tinggal 3malem. Disini beneran kerasa banget panasnya.. ga ngerti kenapa padahal Cuma diem doang tapi keringet ga berenti ngocor. Dalam rangka melayat kematian eyang, bukan liburan jadi kami mengikuti upacara kematian dari mulai ibadah penghiburan, penutupan peti sampai penguburan bersama-sama. Flores itu unik, karena dikelilingi gunung sementara berada di pesisir laut, jadi panasnya kerasa banget. Pemandangannya masih asri enak banget buat diliat, serius deh. Karena masih butuh 5jam perjalanan menuju danau 3 warna, Kelimutu yang terkenal itu jadi kunjungan kesanapun harus dibatalkan, tapi tetap terhibur dengan main ke pantai Pangajawa.
no picture for this point, hape saya kemalingan Natal 2011 kemarin, hiks..
Desember 2011
Kuala Lumpur – Singapur – Bangkok – Hatyai
Kuala Lumpur
Sebenernya agak males nulis cerita tentang Kuala Lumpur, apalagi yang bisa diceritakan tentang mereka yang memanggil kita, saat itu dengan sebutan indon atau dalam bahasa kasar mereka artinya Jongos.. bangsat semua emang.. bencinya lagi yang ngatain kita itu supir taksi yang ngebentak saya waktu pintu taksinya rusak gabisa dibuka dan nyuru saya keluar dari pintu yang lain. Tapi lepas dari mereka yang ga sopan, tetep aja ya pembangunan di Malaysia maju pesat, kalah jauh dengan Indonesia, ga salah juga sih kalo mereka meremehkan kita, emang disana terkenalnya ya Indonesia aktif banget produksi TKI.
Singapore
Perlu diakui, negara bekas jajahan Inggris ini yang paling sukses di Asia Tenggara. Asli keren. Buat temen-temen kayanya negara ini
wajib banget buat dikunjungi. Banyak artikel tentang Singapore dan semuanya menarik untuk disimak. Hedonismenya tingkat tinggi, bikin negara ini kayanya ga pernah tidur. Mungkin karena luas wilayahnya yang kecil, jadi memudahkan negara ini untuk mengatur kebersihan dan segala aspek penting dalam suatu negara. Pulau Santosanya yang terkonsep sangat matang dan sangat baik beneran cocok dijadikan tempat liburan dan senang-senang. Ga salah pokoknya konversi rupiah ke Dolar Singapur nilainya jadi jauuuhh banget.. Kapan ya Indonesia bisa sekeren Singapur? Bangunan tua peninggalan Inggrisnya betul-betul terawat dengan baik, kebersihannya bikin saya malu buang sampah sembarangan… harus nabung buat eksplor Singapur lebih jauh lagi nih..
Hatyai
Hat Yai, kota terbesar di propinsi Songkhla, terletak di selatan Thailand, berdekatan dengan Pattani yang marak dengan isu gonjang-ganjing para kaum Melayu disana yang selama puluhan tahun mengalami diskriminatif dari pemerintahan Thailand. Karena letaknya yang tidak jauh dari malaysia, warga disinipun sedikit-sedikit sudah mampu berkomunikasi menggunakan bahasa melayu, jadi buat teman-teman semua yang ingin ke Thailand tapi takut dengan bahasanya namun ingin puas berbelanja, Hat Yai ini adalah pilihan yang tepat. Kim Young market yang paling terkenal, semacam Pasar Baru kalo di Bandung. Penginapan diseputar wilayah ini juga sangat banyak dengan harga yang murah atau bahkan sangat ekonomis kalo teman-teman memilih guest house sebagai tempat menginap. Harganya tidak lebih dari 500baht atau Rp 150.000!! asik ya.. ayo dong tunggu apalagi, aksesnya mudah, kalian bisa berangkat dari Bangkok atau dari Kuala Lumpur menggunakan bus terhitung 10jam perjalanan termasuk cek barang dan paspor di imigrasi.. murah meriah menyenangkan..